Archive for ‘Catatan’

October 2, 2011

Sedikit Pengalaman Spiritual Saya

Oleh Busriyadi

Saya adalah anak kedua dari delapan bersaudara, empat laki-laki dan empat perempuan. Dilahirkan di kota Samarinda pada 27 Oktober 1982 oleh seorang ibu rumah tangga, beliau bernama Munawaroh. Ayah saya sendiri adalah seorang petani, beliau bernama Marju.

Saya dibesarkan di Dusun Rimbawan, Kelurahan Lempake sampai umur 6 tahun. Setelah satu tahun mengenyam pendidikan di SD Kebun Agung pada tahun 1990, saya dipindahkan ke Madura yang merupakan kampung halaman kedua orang tua saya.

Di Madura saya tidak tinggal dengan kedua orang tua saya melainkan tinggal bersama dengan nenek, kakek, dan paman. Saya tinggal di daerah Bangkalan dan melanjutkan sekolah di sana . Setelah lulus sekolah dasar pada tahun 1995, saya melanjutkan ke sekolah menengah pertama sampai tahun 1998. Kemudian, saya diberi pilihan oleh paman dan nenek, antara melanjutkan sekolah ke sekolah menengah atas atau pondok pesantren, dan saya lebih memilih ponpes atas dasar ilmu agama saya yang masih dangkal. Pula karena saya mempunyai prinsip masa depan di mana saya tidak ingin hanya fokus pada ilmu pengetahuan umum saja.

Singkat cerita, di tahun 1999 akhirnya saya melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri – Pasuruan, Jawa Timur. Saya langsung memulai di level kelas 3 Ibtidaiyah dan lebih banyak ditempa dengan pelajaran Salafiyah atau sering disebut juga Diniyah, sangat jarang sekali pelajaran tentang pengetahuan umumnya.

Setelah lulus Ibtidaiyah, saya kembali melanjutkan pendidikan di tingkat Tsanawiyah. Namun sayangnya, jalannya pendidikan tidak berlangsung lama. Hanya bertahan satu bulan saya duduk di bangku sekolah yang setingkat dengan sekolah menengah pertama tersebut. Tidak lain dan tidak bukan sebabnya tertuju pada permasalahan biaya. Baru saya sadari bahwa biaya di sekolah yang baru tersebut sangat mahal, nenek dan paman saya tidak mampu untuk memenuhinya.

Saya berhenti di level kelas 1 Tsanawiyah Pesantren Sidogiri pada tahun 2002 dengan perasaan sedih hati yang amat sangat, karena saya belum sepenuhnya mendapatkan ilmu agama seperti yang diharapkan sebelumnya. Perasaan sedih itu kemudian saya pendam dalam-dalam karena memang tidak bisa berbuat banyak dalam menyikapi faktor ekonomi yang menjadi kendala. Namun, di sela kesedihan tersebut, tetap tersimpan rasa bangga dalam diri saya. Meski hanya mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri selama empat tahun, saya telah ditempa dengan pendidikan agama yang tak henti-hentinya. Dan dalam proses tersebut, saya tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk terus beribadah kepada Allah SWT sebagai bekal di dunia dan akhirat.

Alhamdulillah, walaupun ilmu agama saya belum bisa dikatakan sempurna, namun saya merasa puas karena sudah bisa membaca Al-Qur’an dan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT, serta sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Dan yang terakhir, saya mempunyai harapan, mudah-mudahan ilmu yang sedikit tersebut mampu saya amalkan untuk saya sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Semoga pula ilmu yang saya dapatkan dari Pondok Pesantren Sidogiri menjadi sesuatu yang barokah dan bermanfaat untuk mengarungi hidup di dunia hingga di akhirat kelak. Amin Ya Robbal Alamin.

Advertisements
August 21, 2011

Berdedikasi Menjaga Hutan Kota

Ir. H.Syarif Effendi, MP merupakan salah satu dosen senior di Universitas Mulawarman Samarinda. Ia menjabat sebagai Kepala UPT KRUS sejak 2007. Keterlibatan dirinya dalam mengelola KRUS merupakan bentuk dedikasi atas kecintaannya terhadap lingkungan. Munculnya polemik akan negara berkembang yang ditengarai menyebabkan kerusakan lingkungan membuatnya tergerak untuk menampilkan diri secara optimal dalam menciptakan keseimbangan antara kerusakan dan perbaikan lingkungan. Tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di media dan berbagai gagasan pun telah ia diciptakan sebagai upaya dalam pelestarian lingkungan.

Dalam masa kepemimpinannya sampai sekarang, ia rutin mengumpulkan kliping-kliping yang berisi perkembangan KRUS dari masa ke masa. KRUS dengan luas 300 Ha ini diklaim sebagai kebun raya terluas yang terletak di tengah kota. Hingga kini tidak ada satu pun propinsi di Indonesia yang memiliki hutan kota seluas itu. Tanggung jawab yang ia emban untuk menjaga KRUS memang cukup berat. Ia harus berhadapan dengan pihak-pihak yang mengancam kelestarian KRUS, seperti pelaku illegal loging, pertambangan liar, perburuan dan sebagainya. Sebagai penunjang agar keberadaan hutan kota ini tetap terjaga, ia bersama staff KRUS membuat rancangan yang kemudian dirangkum ke dalam rencana jangka pendek, menengah dan panjang.

Salah satu rancangan tersebut adalah membentuk KRUS sebagai hutan pendidikan, dan membaginya ke dalam tiga blok, yakni blok konservasi, kebun raya dan rekreasi. Untuk menunjang kegiatan tersebut, ia menjalin kerja sama dengan berbagai pihak termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat serta menarik investor untuk membangun wahana-wahana permainan sebagai sarana rekreasi.