Sedikit Pengalaman Spiritual Saya

Oleh Busriyadi

Saya adalah anak kedua dari delapan bersaudara, empat laki-laki dan empat perempuan. Dilahirkan di kota Samarinda pada 27 Oktober 1982 oleh seorang ibu rumah tangga, beliau bernama Munawaroh. Ayah saya sendiri adalah seorang petani, beliau bernama Marju.

Saya dibesarkan di Dusun Rimbawan, Kelurahan Lempake sampai umur 6 tahun. Setelah satu tahun mengenyam pendidikan di SD Kebun Agung pada tahun 1990, saya dipindahkan ke Madura yang merupakan kampung halaman kedua orang tua saya.

Di Madura saya tidak tinggal dengan kedua orang tua saya melainkan tinggal bersama dengan nenek, kakek, dan paman. Saya tinggal di daerah Bangkalan dan melanjutkan sekolah di sana . Setelah lulus sekolah dasar pada tahun 1995, saya melanjutkan ke sekolah menengah pertama sampai tahun 1998. Kemudian, saya diberi pilihan oleh paman dan nenek, antara melanjutkan sekolah ke sekolah menengah atas atau pondok pesantren, dan saya lebih memilih ponpes atas dasar ilmu agama saya yang masih dangkal. Pula karena saya mempunyai prinsip masa depan di mana saya tidak ingin hanya fokus pada ilmu pengetahuan umum saja.

Singkat cerita, di tahun 1999 akhirnya saya melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri – Pasuruan, Jawa Timur. Saya langsung memulai di level kelas 3 Ibtidaiyah dan lebih banyak ditempa dengan pelajaran Salafiyah atau sering disebut juga Diniyah, sangat jarang sekali pelajaran tentang pengetahuan umumnya.

Setelah lulus Ibtidaiyah, saya kembali melanjutkan pendidikan di tingkat Tsanawiyah. Namun sayangnya, jalannya pendidikan tidak berlangsung lama. Hanya bertahan satu bulan saya duduk di bangku sekolah yang setingkat dengan sekolah menengah pertama tersebut. Tidak lain dan tidak bukan sebabnya tertuju pada permasalahan biaya. Baru saya sadari bahwa biaya di sekolah yang baru tersebut sangat mahal, nenek dan paman saya tidak mampu untuk memenuhinya.

Saya berhenti di level kelas 1 Tsanawiyah Pesantren Sidogiri pada tahun 2002 dengan perasaan sedih hati yang amat sangat, karena saya belum sepenuhnya mendapatkan ilmu agama seperti yang diharapkan sebelumnya. Perasaan sedih itu kemudian saya pendam dalam-dalam karena memang tidak bisa berbuat banyak dalam menyikapi faktor ekonomi yang menjadi kendala. Namun, di sela kesedihan tersebut, tetap tersimpan rasa bangga dalam diri saya. Meski hanya mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri selama empat tahun, saya telah ditempa dengan pendidikan agama yang tak henti-hentinya. Dan dalam proses tersebut, saya tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk terus beribadah kepada Allah SWT sebagai bekal di dunia dan akhirat.

Alhamdulillah, walaupun ilmu agama saya belum bisa dikatakan sempurna, namun saya merasa puas karena sudah bisa membaca Al-Qur’an dan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT, serta sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Dan yang terakhir, saya mempunyai harapan, mudah-mudahan ilmu yang sedikit tersebut mampu saya amalkan untuk saya sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Semoga pula ilmu yang saya dapatkan dari Pondok Pesantren Sidogiri menjadi sesuatu yang barokah dan bermanfaat untuk mengarungi hidup di dunia hingga di akhirat kelak. Amin Ya Robbal Alamin.

Advertisements

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: